SKEMALANGIT.COM – Kepala Desa Tolango, Rasdi Hulopi, surati PT Gorontalo Citra Lestari (GCL) lantaran sebagian wilayahnya terdampak luapan sungai Tolango, dan mengakibatkan beberapa rumah warga terendam banjir baru-baru ini.
Dalam surat Nomor 140/DT-Angg/118/XII/2025 tanggal 30/12/2025 ini, meminta pihak PT GCL untuk membantu pelaksanaan normalisasi sungai dan perbaikan tanggul di bantaran sungai Tolango yang telah jebol.
Kepala Desa Tolango, Rasdi Hulopi mengucapkan terima kasih, kepada pihak PT GCL yang telah menerjunkan dua orang personelnya untuk melakukan pengecekan di lokasi terdampak luapan sungai.
“Pihak GCL sudah turun langsung melakukan peninjauan, terhadap titik-titik tanggul yang jebol dan butuh bantuan penanganan dari pihak perusahaan HTE,” ujar Rasdi.
Rasdi mengungkapkan, setiap musim penghujan tiba, warganya selalu terdampak banjir dari luapan sungai Desa Tolango, sebab tanggul di bantaran sungai Tolango telah jebol.
“Ada empat titik yang jebol itu, dan jaminan dari salah satu personel HTE yang sempat turun di hari selasa kemarin, segera masukan saja suratnya Pak Kades, Insya Allah ini segera direalisasikan,” beber Rasdi menirukan penyampaian pihak HTE.
Rasdi menambahkan, pihaknya sangat berharap permohonan bantuan yang diajukan oleh pihaknya kepada PT GCL dapat direalisasikan.
“Kami sangat bermohon kepada pihak perusahaan untuk dapat membantu kami warga Desa Tolango, agar kami tidak lagi terdampak banjir,” harap Rasdi.
Sementara itu, Regional Head PT GCL, Mohamad Wahyu Subagyo membenarkan, pihaknya telah menerima surat permohonan bantuan dari Pemerintah Desa Tolango tersebut.
“Sudah ada, baru masuk suratnya. Sama dengan surat-surat yang lain, kita pelajari dulu termasuk juga kita cek lokasinya, baru nanti kita koordinasikan seperti apa. Bisa saja, ibarat orang minta sepuluh kita hanya bisa kasih lima,” tutur Wahyu.
Lebih lanjut Wahyu menjelaskan, soal waktu merealisasikan permohonan bantuan yang diajukan oleh Pemerintah Desa Tolango, juga akan disesuaikan dengan kemampuan perusahaan.
“Kita lihat situasi dan kondisinya. Ketika tidak bisa juga memberikan bantuan, akan diusahakan dengan bantuan lainnya. Tidak semua harus pake alat, kan ada juga seperti itu. Makanya kita harus mengecek dulu lokasinya,” jelas Wahyu.
Wahyu membeberkan, sebelumnya ada juga pihak yang meminta bantuan ke HTE Grup untuk menurunkan alat berat exavator, tapi hanya digunakan untuk kepentingan yang lain.
“Tau-tau cuman dipakai untuk parit di sela-sela sekolahan, nanti sekolahnya yang rusak. Inipun kasusnya, kita kan alatnya juga milik pabrik, maka kita koordinasi dulu dengan pihak pabrik, kapan pabrik bisa minjamkan,” beber Wahyu.
Wahyu menambahkan, pada prinsipnya, pihak HTE Grup akan berupaya untuk membantu kepentingan masyarakat, sepanjang itu sesuai dengan kemampuan perusahaan.
“Tapi kalau memang tidak bisa, kita sampaikan juga. Kadang-kadang ada orang minta bantuan yang lain-lain, kita memang tidak sanggup kita sampaikan, karena tidak semua kita bisa penuhi, dilihat situasi dan kondisinya,” pungkasnya.







