Example floating
Example floating
Bencana Alam

Tanggul Tolango Jebol, Rumah Warga Terdampak Luapan Sungai

332
×

Tanggul Tolango Jebol, Rumah Warga Terdampak Luapan Sungai

Sebarkan artikel ini
Luapan air sungai Tolango, Rabu (24/12/2024) malam.

SKEMALANGIT. COM – Hujan yang mengguyur Kabupaten Gorut sejak Rabu (24/12/2024) malam, membuat sungai di Desa Tolango, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut) menjadi meluap.

Dari informasi yang diterima awak media ini, luapan sungai Desa Tolango tersebut, hingga menyebabkan beberapa rumah warga di sekitar bantaran sungai Tolango terdampak banjir.

size 300 x 600 piksel oleh Annissa Rahman

Kepala Desa Tolango, Rasdi Hulopi mengungkapkan, ada dua titik wilayah yang terdampak banjir akibat luapan sungai Tolango kali ini, yakni di dusun dua Desa Tolango, dan di wilayah sekitar bantaran sungai Tolango.

“Di Dusun 2 sana, hanya banjir di halaman rumah. Sementara di sekitar lapangan Tolango, ada rumah warga yang sempat terendam banjir,” jelas Rasdi, saat dihubungi awak media ini, Kamis (25/12/2025).

Rasdi menjelaskan, penyebab sungai di Desa Tolango jadi meluap, selain faktor cuaca extrem, juga dikarenakan sungai Desa Tolango yang kini telah mengalami pendangkalan.

“Normalisasi sungai yang kita minta ke pemerintah daerah sebagai solusi dari persoalan ini, sampai sekarang tidak ada. Cuman normalisasi sungai itu solusinya, karena sungai telah dangkal sehinga tidak dapat berfungsi dengan baik,” jelas Rasdi.

Lebih lanjut Rasdi mengatakan, jebolnya tanggul di Desa Tolango, memperparah kerawanan banjir di Desa Tolango setiap musim hujan.

“Kalau tanggulnya sudah diperbaiki, air tidak akan meluber sampai ke pemukiman warga. Hanya saja, sudah setiap tahun kami minta perbaikan tetap tidak ada,” jelas Rasdi.

Kemudian Rasdi menyebut, dangkalnya sungai di Desa Tolango diduga lantaran aktivitas Hutan Tanaman Energi (HTE) yang kini tengah beroperasi di wilayah hulu Desa Tolango.

“Sehingga meski dibuat bagaimanapun, tetap akan terjadi pendangkalan karena mereka menanam pohon untuk ditebang. Malah, pohon yang hidup alami mereka tebang juga,” beber Rasdi.

Meski demikian lanjut Rasdi, aktivitas HTE saat ini tidak bisa dihentikan karena perusahaan yang mengelola telah mengantongi izin resmi.

“Saya jadi ngeri juga. Kita sebenarnya dilema sebagai pemerintah, ketika kita mau menghentikan, atasan mendukung, bila tidak dihentikan dampaknya kita yang rasakan. Parah juga,” keluh Rasdi.

Rasdi meminta, perusahan pengelola HTE di Kabupaten Gorut tidak hanya melakukan normalisasi sungai di Desa Tudi, akan tetapi turun melaksanakannya juga di desa-desa rawan banjir lainnya.

“Karena salah satu penyebab banjir juga mereka. Kalau narasi mereka kan mereka menanam, menghijaukan, padahal kan untuk mereka panen. Tapi sulit juga, izin sudah dari kementerian, tidak bisa dibuat apa-apa,” imbuh Rasdi.

Sementara itu, Regional Head HTE Grup, Mohamad Wahyu Subagyo mengungkapkan, pihaknya belum menerima informasi terkait hal ini.

“Saya belum dapat informasinya, saya baru dapat informasinya ini. Nanti biar staf saya ngecek dulu ya,” jawab Wahyu singkat.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *