Example floating
Example floating
Opini

Kemeriahan HUT Gorut ke 19 Untuk Siapa? “Kau Bukan Dirimu”

99
×

Kemeriahan HUT Gorut ke 19 Untuk Siapa? “Kau Bukan Dirimu”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.

Oleh: Mohamad Yusrianto Panu/Jurnalis

SKEMALANGIT.COM – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut) ke 19 Tahun 2026, kabarnya telah usai dan telah ditutup secara resmi.

size 300 x 600 piksel oleh Annissa Rahman

Meski demikian, gaungan kemeriahannya masih begitu terasa, seiring dengan masih adanya pasar malam (hoya-hoya) yang dibuka di kawasan blok plan Kantor Bupati Kabupaten Gorut.

Bgaimana tidak, panitia penyelenggara pasar malam dalam waktu dekat ini akan menggelar konser musik yang akan mendatangkan musisi asal Bolaang Mongondow Timur, Novia Bachmid.

Namun, dibalik itu, yang menggelitik pikiran adalah bukan soal kehadiran penyanyi berdarah Arab-Melayu tersebut, melainkan pemantiknya, yaitu peringatan HUT Kabupaten Gorut yang ke 19 dan pasar malam yang menjadi daya tariknya.

Tiba-tiba, dalam benak saya muncul pertanyaan: kemeriahan HUT ke 19 ini untuk siapa? Sebab bukan gempita perayaan yang diharapkan oleh mereka yang telah memperjuangkan lahirnya Kabupaten Gorut.

Juga, bukan agenda ceremonial dibalut konsep kearifan lokal yang dibutuhkan oleh mereka para pejuang yang kini terbaring dibawah gundukan tanah, melainkan kejelasan soal nasib daerah yang dapat dirasakan juga oleh keluarga mereka.

Apalagi, jika meriahnya HUT Gorut ke 19 cenderung diwarnai dengan beragam kegiatan yang memukau, namun terpusat di Ibu Kota Kabupaten yang entah untuk melayani dan memuaskan siapa.

Disamping itu, Jika tujuan memeriahkan peringatan HUT ke 19 Gorut kali ini untuk menumbuhkan geliat ekonomi masyarakat lewat pemberdayaan UMKM, bagaimana dengan UMKM yang tersebar di sebelas kecamatan lainnya?

Padahal, merasakan dampak geliat ekonomi di balik meriahnya peringatan hari jadi Kabupaten Gorut kali ini, tidak hanya menjadi hak UMKM di salah satu kecamatan saja, tetapi sebaiknya dapat dirasakan oleh seluruh UMKM di Kabupaten Gorut.

Persoalan ini, memang nampak biasa saja, tetapi aurah kesenjangan yang sedang terbangun dari hal ini seolah menjadi dering alarm; pemekaran Kabupaten Gorut hanya milik Ibu Kota saja.

Bumbu-bumbu kemeriahannya dengan “non APBD”, dan apalah diksi lain yang digunakan sebagai alasan untuk membalut kondisi itupun seolah semakin menormalisasikan hal ini.

Jika kegiatannya terpusat di Ibu Kota Kabupaten dan non APBD, maka pihak manakah yang berkoban merogok kantongnya untuk mendanai kemeriahan periangatan HUT Gorut? Dan pengorbanan ini dipersebahkan untuk siapa?

Jawabannya, mungkin saja akan sama dengan jawaban atas pertanyaan: Kondisi batin siapakah yang sedang dipuaskan oleh mereka yang telah berkorban rupiahnya ini?

Selain itu, jika kemeriahan HUT Kabupaten Gorut, turut mengundang pihak ketiga untuk berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatannya, maka ekonomi siapakah yang sebenarnya sedang disejahterahkan?

Jawabannya, mungkin saja ada dalam isu yang berhembus, bahwa selepas perayaan HUT Kabupaten Gorut yang katanya sudah ditutup baru-baru ini, pihak ketiga yang berkontribusi menggelar konser musik yang dikomersilkan dengan harga tiket yang cukup mahal.

Seolah, masyarakat Gorut dengan menonton konser ini, tanpa disadari sedang membayar pihak ketiga yang katanya telah berkontribusi untuk perayaan ulang tahun di rumah kita sendiri. Cukup menggelikan, ini malah seperti jadi sumbangsih yang harus dibayar.

Meski jika benar demikian, harus saya akui dan diacungkan jempol ide konsep cerdas ini, meski di sisi lain batin merintih dengan pertanyaan: haruskah rakyat yang berkorban membayar kontribusi itu dengan diiming-imingi konser musik artis terkenal lewat pihak ketiga?

Jika benar demikian, maka wajar saja ketika kita harus bertanya: untuk siapakah kemeriahan peringatan HUT Gorut ke 19 kali ini?

Apakah demi mengenang jasa para pejuang pembetukan Kabupaten Gorut? Ataukah untuk mengobati kerinduan rakyat terhadap hiburan di ruang fasilitas milik negara yang dikomersilkan oleh pihak ketiga?

Semoga saja, pertanyaan ini dapat terjawab oleh Bupati Kabupaten Gorut yang juga sekaligus sebagai tokoh utama dalam pembentukan Kabupaten Gorut.

Dari kejauhan tempat saya membuat tulisan ini, terdengar lagu “Kau Bukan Dirimu” yang dipopulerkan oleh Broery Marantika feat Dewi Yull.

Wallahualam Bishawab.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *