Example floating
Example floating
Gorontalo Utara

Pengerjaan Revitalisasi di SDN 11 Tolingggula Diduga Asal-Asalan

10
×

Pengerjaan Revitalisasi di SDN 11 Tolingggula Diduga Asal-Asalan

Sebarkan artikel ini
Papan informasi pengerjaan proyek revitalisasi SDN 11 Tolinggula, Kabupaten Gorontalo Utara (Foto dok Yusri/skemalangit.com).

SKEMALANGIT.COM – Pengerjaan proyek revitalisasi sekolah di SMP 11 Kecamatan Tolinggula, Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut), diduga asal-asalan dan tidak menggunakan bahan bangunan atau material yang sesuai standar kelayakan.

Sebelumnya, SDN 11 Kecamatan Tolinggula pada tahun 2026 ini menjadi salah satu penerima bantuan program revitalisasi sekolah, dengan total anggaran yang cukup fantastis yakni senilai Rp. 1.222.962.282.

size 300 x 600 piksel oleh Annissa Rahman

Saat melakukan pantauan langsung di lapangan, tim skemalangit.com menemukan sejumlah kejanggalan pada pengerjaan rehab ruang kelas belajar (RKB), yang dapat mengakibatkan terjadinya ketidaksesuaian spesifikasi (kekurangan volume).

Dugaan ini, dapat diperkuat dengan adanya temuan kayu rangka untuk atap bangunan kelas yang tidak diganti, rangka plafon yang kayunya hanya sebagian diganti, dan dinding kelas yang retak hanya ditampal dan tidak dilakukan pelebaran celah sebelumnya.

Tak hanya itu, kusen pintu dan jendela bangunan juga tak diganti dengan kayu baru, tetapi hanya diamplas dan diplamir kembali, agar terlihat seperti baru setelah dilakukan pengecetan kembali.

Saat melakukan penelusuran di sekitar lokasi pengerjaanpun, dengan didampingi Kepala SDN 11 Tolinggula, Melky Maga, tim skemalangit.com tidak menemukan tumpukan kayu bekas yang diganti. Di dalam gudang sekolah, hanya menyimpan beberapa moubiler bekas dan bingkai gambar.

Selain itu, dalam pengerjaan royek tersebut, para tukang menggunakan bahan material berupa pasir yang dibeli dari Desa Buloila, Kecamatan Sumalata, yang diduga berasal dari pasir pantai.

Kepala SDN 11 Kecamatan Tolinggula, Melky Maga kepada awak media ini mengungkapkan, program bantuan revitalisasi di sekolahnya adalah bantuan rehabilitasi gedung.

“Hanya rehab ruang kelas dari kelas satu sampai dengan enam, ruang administrasi, perpustakaan, dan WC,” ujar Melky, Sabtu (25/7/2026).

Melky juga mengakui, pasir yang digunakan untuk pengerjaan rehab gedung di sekolahnya menggunakan pasir dari Desa Buloila, Kecamatan Sumalata.

“Saya menggunakan pasir dua jenis, untuk pasir kasar bercampur kerikil saya ambil dari Tolinggula, sedangkan yang satu jenis lagi, saya ambil dari Buloila karena pasir di sini kuaitasya tidak bagus sebab bercampur lumpur,” jawab Melky, saat dikonfirmasi terkait asal usul pasir yang digunakan pihaknya tersebut.

Sayangnya, saat dikonfirmasi kepada salah satu pengangkut pasir tersebut yang berinisial U, dirinya membenarkan pasir yang digunakan dalam pengerjaan revitalisasi di SDN 11 Tolinggula berasal dari pasir pantai.

“Pasir itu dari Buloila, dari paka-paka ombak (istilah penyebutan pantai),” kata U, saat dihubungi Sabtu (25/7/2026).

Sementara itu, Ketua Komite SDN 11 Tolinggula, Effendy Bone, saat dikonfirmasi terkait perannya dalam pelaksanaan revitalisasi di sekolah itu, dirinya tidak tahu menahu terkait proses pengerjaan revitaslisasi di SDN 11 Tolinggula.

“Yang saya tahu hanya di sekolah itu ada proyek, selaku Ketua Komite saya tidak tahu menahu lebih dalam soal bagaimana proyek itu sekarang, bahkan RAB nya saja saya tidak pernah melihat atau memegang,” tutup Effendi singkat.

Sayangnya, setelah dikonfirmasi alasan mengapa dirinya tidak mempunyai pengetahuan yang cukup pada proyek tersebut, pria yang akrab disapa Pasisa Endi itu langsung menutup sambungan telefon tanpa menjawab lagi.

Hingga berita ini diturunkan, Effendi Bone tidak lagi memberikan keterangan lebih lanjut saat beberapa kali dihubungi oleh awak media ini.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *